Senin, 30 April 2012
PERBAIKI JALAN DIGANGGU PREMAN, PEMKOT BERI PELATIHAN WIRAUSAHA KE ORMAS
PAMULANG, TAPOS. Sejumlah oknum organisasi masyarakat (ormas) dituding sebagai biang keladi dari lambannya perbaikan jalan di Tangerang Selatan.
Soalnya, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air maupun konstraktor merasa resah ketika ingin memperbaiki jalan selalu diganggu preman-preman yang notabene anggota ormas.
Hal itu diakui Kepala Dinas Bina Marga dan SDA Tangsel Retno. Saking resahnya, Retno mengaku sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk menemani pekerja dalam melakukan perbaikan jalan.
“Seperti para pekerja yang ingin menambal jalan di Jalan Raya Sasak ataupun Puspiptek, terganggu pekerjaanya, dikarenakan seharusnya diperbaiki dan mengirim empat truk baru dua truk dikerjakan. Para pekerjanya kabur karena diganguin ormas,” keluh Retno.
Retno mengatakan pihak Provinsi sudah melakukan perbaikan, namun karena banyak oknum ormas yang menggangu proyek perbaikan di Jalan Raya Puspiptek. Baru dua hari bekerja, para pekerja tersebut sudah kabur, karena tidak tahan digangu oleh para oknum ormas tersebut.
“Kita akan melakukan kordinasi terkait ini, saya berharap semua masyarakat dapat membantu perbaikan jalan, dikarenakan perbaikan ini untuk kepentingan masyarakat bersama,” katanya.
Untuk mengurangi oknum pengurus ormas yang mengganggu pekerjaan, Pemkot berencana memberikan pelatihan wirausaha kepada pengurus ormas.
“Ormas merupakan warga Tangsel juga sehingga tidak perlu dihapuskan, melainkan akan dilakukan pembinaan pelatihan UKM untuk para ormas ini. Saya sudah meminta kepala Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) untuk melakukan program kegiatan UKM kepada para ormas,”jelas Airin saat coffee morning di Kantor Walikota Tangsel, Kamis (12/4).
Airin mengatakan pelatihan keterampilan supaya ada kemandirian bagi masyarakat Tangsel, terutama pengurus ormas. ”Agar mereka dapat menjadi masyarakat yang mandiri dengan bekal ilmu atau keterampilan yang dimiliki setelah mengikuti pelatihan. Diharapkan 400 ormas tersebut dapat diikuti pelatihan,” katanya.
Diharapkan ormas tersebut dapat membuka usaha dan oknum ormas tidak lagi menggangu. namun melakukan kegiatan pekerjaan yang bermanfaat.
Dia juga meminta ke Sekda dan Wakil Walikota untuk berkoordinasi dengan perusahaan agar memberikan program Coorporate Social Responsibility (CSR).
“Kita juga meminta bagi para pengembang untuk memperkerjakan masyarakat sekitar untuk dapat bekerja di perusahaan tersebut,” katanya.
Terkait pelebaran Jalan Raya Ciater, Serpong yang menghubungkan Ciputat akan dikerjakan tahun ini. Meskipun sebelumnya terkendala pembebasan lahan membuat pembangunan di sepanjang jalan menghubungkan Ciputat-Pamulang-Serpong sempat molor.
”Sudah ada kesepatan harga ganti rugi dengan pemilik lahan. Untuk ganti ruginya sekira Rp 2 juta permeter,” tegas Retno.
Dikatakan Retno, Pemkot sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp 5 miliar untuk pelebaran sepanjang dua kilometer.
Sedangkan, untuk pengerjaannya akan dimulai awal 2013. Lantaran, pembebasan lahan ditargetkan selesai di 2012.
”Untuk Jalan Raya Ciater akan dilebarkan menjadi 24 meter. Tadi dua lajur menjadi empat lajur,” katanya. Menurutnya jalan raya Ciater sudah termasuk padat akan kendaraan. Sementara, lebar jalan sekira enam meter, sehingga, menyebabkan kemacetan setiap harinya.
”Lebar 24 meter sudah termasuk drainase dan bahu jalan,” katanya.
Selain pelebaran jalan, kata dia, akan membangun bundaran di pertigaan Maruga di jalan raya Ciater. Pertigaan tersebut menghubungkan BSD-Ciputat-Maruga-Pamulang. Bundaran tersebut akan dibangun dengan diameter 14 meter dan Detail Engineering Design (DED) sudah ada.(irm)
Membangun Pamulang menjadi Kota Besar
Tangerang selatan (Tangsel) merupakan salah satu kota di Provinsi Banten, BSD (bumi serpong damai) yaitu salah satu icon dan pusat perekonomian Tangsel, BSD sudah tidak usah ditanya lagi, kota yang terencana sejak dulu itu dilengkapi banyak infrastrutur yang nyaman, mulai dari perkantoran, perdagangan, pendidikan, wisata, pasar modern sampai perumahan elit. Agak kurang rasanya kalau jalan-jalan atau lewat Tangsel gak mampir ke BSD City, bagi yang berkantong tebal bisa liat-liat dan beli rumah hunian yang nyaman dan asri dan bisa juga merencanakan ber-inventaris disana. Bagi yang hanya lewat monggo ke taman kota 1 dan taman kota 2 atau ke OceanPark Water. lumayan bisa membuat perjalanan menjadi lebih asik dan menyenangkan.
Tapi nanti dulu, tangsel tak hanya mempunyai BSD aja, ada Kota Pamulang,ya. Pamulang merupakan kota di Tangsel yang menurutku bakal menjadi kota yang besar. Berbagai opini-opini disurat kabar lokal membicarakan masa depan kota yang dulu hanya seperti kebun yang tak terurus. Aku baru beberapa tahun tinggal di Pamulang tapi kerabatku uda puluhan tahun di Pamulang, kerabatku sedikit banyak cerita tentang kota ini, heran. Itu yang kutangkap dari cerita dari kerabatku, karena menurut dia sebelum tahun 2000an Pamulang gak semacet ini, tapi sekarang Pamulang uda kayak semut keluar dari sarangnya pada saat jam-jam kantor. Pamulang gak ada traffic light tapi macetnya uda kayak ngantri di traffic light, ada se traffic light tapi cuma satu yaitu di perempatan Gaplek beberapa kilometer dari kantor walikota tangsel.
Jalan Pamulang yang sempit dan volume kendaraan terus bertambah, mungkin itu penyebab kemacetan. Terutama jalan akses arah ke pondok cabe/Lebak Bulus, atau akses jalan ke arah Viktor, atau di Bunderan Pamulang tentu pas jam kerja dan pas jam keluar Mahasiswa UNPAM sift malam, jangan ditanya lagi pasti macet, tapi mulai akhir-akhir ini Pamulang sedikit lancar, pelebaran jalan di sejumlah titik mulai di bangun jadi alhamdulillah sudah bisa ngurangin kemacetan.
Pamulang akan menjadi kota besar? Ya. Selain opini-opini yang mencuat di media cetak atau media online seperti Blog, dan forum dll , aku pernah ngobrol dengan salah satu pejabat di BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) Tangsel, beliau bilang,”beberapa tahun lagi Tangsel akan menjadi kota yang besar, nanti akan dibangun jalan tol dan fly over,untuk mengatasi kemacetan,termasuk Pamulang ini”. Mungkin juga bangunan-bangunan tinggi akan dibangun di Pamulang ini, aku juga sudah melihat beberapa bangunan Pemerintah setempat yang mulai dibangun,cukup besar dan tinggi, mungkin karena Pamulang adalah pusat pemerintahan daerah Tangsel jadi Renovasi-renovasi Bangunan kantor Walikota pun di perlebar dan diperbesar. Tak sampai disitu saja, Pasar-pasar moderen sudah ada di dua titik yang akan dibangun di daerah Pamulang, pusat perbelanjaan juga sudah mulai menampakkan kemegawahan disepanjang jalan raya Pamulang. Sangat pesat.
Tapi sebentar, untuk menjadi kota yang besar seperti saudaranya yaitu BSD City maka salah satu aspek perlu diperhatikan, Saluran Air. Ya. rancang bangun Irigasi, Gorong-gorong dan sebagainya harus terencana rapi dan terealisasikan dengan baik dan tepat. Jangan sampai bangunan-bangunan pencakar langir sudah dibangun dan kota tertata rapi tapi kaki-kaki bangunan terendam air, ruas jalan tergenang air got dan rumah-rumah warga terendam. Sekali lagi ini penting, lebih baik mengantisipasi daripara membenahi. Mengantisipasi irit biaya sedangkan membenahi banyak biaya. Lihat saja kota Jakarta, kenapa jalan-jalan utama di sana baru dibuat gorong-gorong yang besar? Kenapa gak dari dulu dibuatnya? Kenapa harus menunggu tragedy Jakarta tenggelam (2007)? Nah sekarang baru dibangun, banyak biaya kan, bikin macet kan, meresahkan bukan?!. Harusnya sebuah kota yang kelak menjadi kota besar dari awal sudah direncanakan Irigasi yang tepat dan benar.
Begitu pula Pamulang, dulu pertama aku masuk di Pamulang, sering terjadi genangan air yang membuat badan mesin motor terendam dan akhirnya mogok, dikawasan BPI, Perum MA, sebelum Pombensin Gaplek, Universitas Terbuka dll. Tapi sekarang sudah agak mending karena sudah ada pembersihan dan pembuatan gorong-gorong tapi belum maksimal karena terkadang masih saja air menggenang. Pamulang mempunyai Situ atau Danau, dimana danau itu sebaiknya jangan di tinggal diamkan dan tidak diurus, malainkan dirawat agar bisa menampung air disaat hujan lebat. Dan selain itu perlu sosialisai mengenai Kebersihan di kota Pamulang, kesadaran dan pemahaman sejak dini sebelum menjadi kota yang besar haruslah sudah tertanam, membuang sampah dan memberdayakan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat bisa di jalankan dengan mudah dan menjadi kebiasaan warga Kota Pamulang.
Maka sudah bereslah salah satu syarat untuk menjadi Kota yang besar yang indah dan nyaman, masih banyak syarat yang lain agar Pamulang menjadi Kota yang besar, baik dari aspek adat,budaya,infrastruktur, industry, wisata, keadministrasian dan pendidikan. Mari kita bangun kota Pamulang sebagai Kota besar yang indah dan nyaman.
Jumat, 27 April 2012
Warga Sudah Bosan Dengan Tawuran Antar Ormas
INILAH.COM, Jakarta - Pasca terjadinya bentrokan antar Ormas Forum Betawi Rempuk dan massa dari Pemuda Pancasila (PP), kondisi disekitar Stasiun Sudimara, Ciputat, Tangerang Selatan, saat ini terpantau normal.
Situasi di Jalan Raya Jombang atau sekitar Stasiun Sudimara, Ciputat, Tangerang Selatan, saat ini kembali normal. Aktifitas di sekitar lokasi pun kembali berjalan seperti biasa, pasca terjadinya bentrokan antar Ormas FBR dan massa dari Pemuda Pancasila, pada Senin (2/12/2011) malam.
Dari pantauan INILAH.COM, di lapangan sudah tidak terlihat bekas-bekas terjadinya bentrokan disana. Selain itu juga tidak terlihat adanya petugas polisi yang berjaga-jaga di sekitar lokasi kejadian. Warga sekitar mengatakan tawuran di kawasan itu bukan hal yang baru, karena tawuran antar ormas di wilayah tersebut sudah sering terjadi.
"Tawuran seperti itu sering terjadi. Bahkan tanpa diketahui apa persoalannya, terkadang sekitar jam 02.00 malam, tiba-tiba tawuran," ujar Asih, warga sekitar saat ditemui INILAH.COM, Selasa (3/1/2012).
Seperti tawuran yang terjadi pada Senin malam kemarin, warga sekitar tidak mengetahui apa pemicunya namun tiba-tiba kedua kelompok massa langsung terlibat bentrokan.
"Beberapa pemuda berteriak di area jalan Stasiun Sudimara sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka membawa membawa bambu dan senjata lain untuk menyerang. Setelah itu terjadi tawuran, sekitar tiga puluh menit tawuran reda sendiri, tidak ada petugas keamanan," jelasnya.
Meski tawuran antar massa menjadi langganan di wilayah tersebut, namun warga mengaku jenuh dengan situasi tersebut. warga berharap tidak ada lagi kejadian seperti itu. "Karena itu membuat resah, takut dan menganggu jalan," ucapnya.[bay]
Rabu, 25 April 2012
Provincial Regulation No.? In 2012 On Investment In South Tangerang City
Tangsel, Banten, Article 30 paragraph (2) Regulation No.1 of 2008 on Investment, the Ministry of Government mengamanahkan in the country to develop Permendagri About Daerah.Pemerintah Government Investment Act by the City of South Tangerang - related legislation, may invest in securities purchases valuable, Lending, Rent, Utilization Cooperation, Build or Build Serah Serah Guna Guna, and which shall administer and implement the DPPKAD Tangsel, as the Regional Treasurer.
The economic growth rate of South Tangerang City, quite a significant increase, which in general is dominated by the tertiary sector, namely pengakutan and communication, trade, hotels and restaurants and business services - services, banks, leasing and services company that contributes to 90% . As for the secondary sector, manufacturing, electricity, gas and water supply and construction provides kotribusi 8.76%, then, the primary sector, namely agriculture, mining and quarrying only give contributions of 2%, due to spatial and South Tangerang City area is should only be for the industry's No. Polutan.Ada adage that is often heard among the public, in the early expansion of the City Tangsel, "With just sit alone, the government Tangsel, will directly observe the rapid economic growth in Tangsel, because the private sector role is quite rooted in the areas of property, the total investment value of Rp.30 trillion ".
Tangsel, it strategically as a buffer state capital, with a total length of 137.773 Km as far as city streets, five electric train stations spread across the three districts, the Office of Telkom, amounting to 5 pieces spread over five districts, 83 units of BTS Tower, 21 temporary dump , also 5 units of water treatments plants, 26 unti public burial place, in cross 5 rivers, and 5 Setu which still serves as a rain shelter, is a very strategic geographic conditions.
Therefore, in order to improve the investment climate and encourage investment, the municipal government is compiling Tangsel agenda that was developed into several points in between, formulating investment policy, regulatory improvements, simplification of licensing, infrastructure development, promotion of the region, strengthening regional management that no other is the formation of network development and investment business in the City of Tangsel.
Step towards the establishment of the Regional Owned Enterprises (enterprises) is like a Holding Company, which includes parking management services, Islamic Banking, and other forms of business that produces a rich local revenues, so the PAD (PAD income) derived from local levies and taxes can be reduced, because the high economic costs due to local levies and excessive taxation would hinder investment climate that will eventually make it difficult jobs for local residents.
With him on the legal regulation No.20 Year 2012 On Investment In South Tangerang City refers to the Law No.25 Year 2007 on Capital Investment, and Law No.32 of 2004, On Daerah.Semua Government officials expect the area immediately to prepare the capacity to invite investment, investment promotion immediately published to the whole society in particular need for investment in the country, and all the obstacles that arise can be handled the settlement.
Local Regulation No.20 Year 2012 On Investment In Tangerang city break includes Chapter 13, and Article 32, Chapter I General Provisions, Chapter II Principles and Objectives, Chapter III of the Regional Authority, Type of Business Chapter IV, Chapter V shape and Incentives Ease of Investment, Chapter VI Criteria and Incentives Ease Investment, Investment Facility Chapter VII, Chapter VIII Implementation Penanaan Capital, Chapter IX Control and Investment Procedures, Licensing Mechanism Chapter X, Chapter XI Administrative Penalties, Reporting and Evaluation Chapter XII, Chapter XIII Final Provisions.
In Chapter IX Control and Investment procedures, patutlah in note to investors, because in it contains a section on Rights, Duties and Responsibilities of Investors and the Investment Facility Chapter VII, patutlah a separate motivation for investors to achieve a number of facilities and incentives of local government Tangsel City mayor referred to in Rule.
Advanced rapid rate of economic growth of South Tangerang City, has always depended on the interaction of government and business, the principal problem that often occurs in capital investment in the area are always related to several factors, including: Risk of security breach that may affect the perception of investment climate investro in Tangsel , Lack of legal certainty and uncertainty of property rights and business agreements as well as weak law enforcement, lack of conducive labor market in low-wage Tangselm productivity is difficult in the estimate and akibatkan ering the case in the court of industrial relations, then, overlapping regulations and policies of central and local , and the intersection siurnya division of authority between central and local government policy-making related to investment in the region, the latter is berbelitnya bureaucratic process of licensing procedures that are too long and lack of incentives in this area of tax incentives.
However, South Tangerang, in the era of globalization, would be able to face all the obstacles that would interfere with a healthy investment climate, especially with the Regulation No.20 Year 2012 on the capital investment in Tangsel that contains all the things needed by the public and investors at large , but in general, the enthusiasm of local governments Tangsel City, will be creatively done penuyusunan public investment plan, the development of information systems investments, services one-roof system or a one-stop shop, and a reorientation of the role of the traditional leading role kewiraswastaan.Yang goal is reducing an issue of poverty, welfare and increase the Gross Domestic Product (GDP). investment activities in the area Tangsel, an absolute must promote economic growth, create jobs, enhance competitiveness, Increasing the capacity and capability economy and economic process with the potential to be the real power funds derived from the d South Tangerang City itself.
Potential Tangerang City South
PantonaNews.com - South Tangerang City (Tangsel) established by Law no legal basis. 32/2007, dated October 29, 2008, includes the District of Chester, East Chester, Pamulang, Pondok Aren, Serpong, North Serpong and Setu. The east by the City of South Jakarta (DKI Jaya) and the city of Depok (West Java), the south by the city of Depok and Bogor (West Java), north bordering Tangerang City, and east by Tangerang District. South Tangerang city covers an area of 210.49 km2 with a population reaching 966 thousand, with a population density reaches 4589 inhabitants per km2.
South Tangerang Formation can be said is actually too late, far behind the other autonomous cities like Cilegon, Depok, Cimahi, Banjar, Stone and several other cities outside Java. Refer to criteria such as the ability of economic expansion, the potential of the region, social, cultural, social, political, population and area, South Tangerang pretty decent when compared to other cities of the newly established autonomous. In terms of area, South Tangerang city larger than the City of South Jakarta and Bogor, while in terms of population is almost equal to the population of Central Jakarta, and more when compared to the population of the city of Bogor.
In terms of economic capacity, sub-districts in South Tangerang is a barn for revenue (PAD) for Tangerang Regency. Urban sector in the region is growing rapidly, fueled by economic growth in DKI Jaya, South Jakarta in particular. For some locations in the border, it becomes difficult to distinguish whether including the South Jakarta District or the South Tangerang, even some people 'feel' as the residents of South Jakarta.
Development of the South Tangerang area, especially for trade, services and housing can be said to be the most rapidly in Indonesia. As an illustration, the settlers would be surprised if the district enters Serpong, "Wahh ... this time there is no such city mayor, the district status only ..." Serpong is a district that has the most complete urban facilities, especially with beroperasionalnya major developers such as BSD City, Alam Sutera, Gading Serpong, and so forth. In this district has established several shopping centers and world-class business center, so Serpong Tourism spending has become a city. Also in Serpong also there have been several universities such as Indonesia Technology Institute (ITI) and the Swiss German University (SGU), as well as some government-owned research centers such as Puspitek. Developed into a worthy addition to the central government, the district could be developed into a center Serpong agropolitan. Various types of ornamental plants (forikultur) as has been widely cultivated orchids in this region.
District of Chester is also experiencing rapid growth, although faced with infrastructure like roads in a city that has not been adequate. Traffic congestion a daily sight in Chester. Although he has built a toll road connecting Serpong area of South Jakarta, Pondok Aren, Ciputat and analytical ability, but have not overcome the congestion problem. In Chester has long been established in several universities as Syarief Hidayatullah State Islamic University (UIN), University of Muhammadiyah.
District of Pondok Aren is the center of residential areas and business development. In Pondok Aren has evolved such settlement with various fittings Bintaro Jaya urban infrastructure. In addition, in some villages such as Parigi, Pondok Pucung and West Jurangmangu currently developing domestic industries to commodities shoes, bags and towels. Not much different from the District Serpong, Ciputat and Pondok Aren, although not directly adjacent to the DKI Jakarta, Pamulang district also experienced rapid growth, even beyond the level of population density regions, it's been surpassed 8000 inhabitants per km2. Special District Cisauk still have a lot of open space to be developed further, either for residential, industrial or agro business. Cisauk population density is still about 2,000 people per km2.
Essence Establishment
Formation of South Tangerang City is indeed a local community's aspirations, its primary purpose was to increase the level of welfare. Management of regional autonomy and self-control is expected to shorten the range of governance, so management and human resource potential of the area can be optimized. As the key to success lies in the ability of the managers who occupy government bureaucracy, from which the position of highest to lowest. Starting from the Mayor, Head of Department / Agency, Head to the Village Chief / Head of the village, whether truly understand his position as an element of the regional administration. Similarly, Parliament is the body representing the local people, whether truly understand his position as an element of the regional administration.
The organizer is not just 'merely hold' or 'just walking', but to be completely oriented to the 'implementation of a quality and professional'. In this case the focus is service to the community, especially those bound issues of poverty, unemployment, education and health. That is the essence of the formation of new autonomous regions. (Atep Afia)
HISTORY OF ESTABLISHMENT CITY SOUTH TANGERANG
South Tangerang city is a city in the province of Banten, Indonesia. The city was inaugurated by the Minister of Home Affairs of Indonesia, Mardiyanto, on October 29, 2008. This region is the expansion of Tangerang regency. This plan originated from the desire of residents in the southern region for the welfare of society. In 2000, several leaders of the districts mentioned Cipasera began as an autonomous region. Residents feel less attention Tangerang regency government so much neglected facilities. On December 27, 2006, Parliament approved the establishment of Tangerang regency of Tangerang City South. Candidates for the autonomous city is made up of seven districts, namely, Ciputat, East Ciputat, Pamulang, Pondok Aren, Cisauk, and Setu. This region has a population of about 966 037 inhabitants. In the Dutch colonial period, this region into the residency of Batavia and preserve the characteristics of the three ethnic groups, the Tribe Sundanese, Betawi Tribes and Tribal Chinese.
On January 22, 2007, Plenary Session of the House of Representatives District Tangerang District Ciputat set as the central government of South Tangerang. In a meeting led by the Chairman of DPRD Endang Sujana, Ciputat elected by acclamation. The population in this region is more than one million inhabitants. Pamulang inhabited by 236 000 people, was inhabited Ciputat 260 187 inhabitants. Of these two districts, the population of 500,000. If coupled with a population of Serpong, Pondok Aren, and Cisauk will amount to more than one million inhabitants. Thus, qualify for an autonomous region. House of Representatives Commission I Banten region began discussing the proposed beam forming Tangerang City from March 23, 2007. The discussion is done after the file proposals and requirements of the establishment of Banten Governor Ratu Atut be submitted to the Council Chosiyah on March 22, 2007. In 2007, Tangerang regency government set aside Rp 20 billion for the initial establishment of South Tangerang City. The funds budgeted for operating costs of new cities during the first year and an initial capital of the parent to the results of the division. Furthermore, the Government will provide funding Kabupetan Tangerang rolling up an independent division of the city. (Source: Wikipedia)
Anjing Gegerkan Warga Pondok Aren
TANGERANG-Seekor anjing betina diduga sebagai anjing jadi-jadian, membuat geger warga gang Bonjol RT 04/03, kelurahan Pondok Jaya, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Rabu (25/1).
Penemuan anjing berawal sekitar pukul 03.00 dinihari, saat warga yang sedang ronda dikejutkan dengan anjing yang langsung masuk kekolong pos ronda. Kemudian warga langsung mengusir anjing tersebut dengan bambu, tapi anjing pun enggan pergi juga dan warga langsung memukuli anjing yang hanya diam saja."Udah dipukulin tetap saja anjingnya ngga mau kabur," ujar Kepala Unit (Kanit)Provost Polsek Pondok Aren, Aiptu Rais Abin yang juga menemukan anjing tersebut.
Kecurigaan warga semakin kuat mengenai anjing jadi-jadian saat sejumlah warga sering kehilangan uang."Momentnya pas banget, warga sini memang sering kehilangan uang, makanya warga langsung mengatakan itu bukan anjing sembarangan," katanya lagi.
Dengan kejadian tersebut, sontak puluhan warga yang penasaran ingin melihat anjing berwarna putih langsung mendatangi lokasi kejadian. Tidak hanya warga sekitar, kabar tersebut sudah menyebar hingga ke daerah lainnya."Penasaran gimana rupanya anjing jelmaan tersebut," ujar salah seorang warga yang tinggal di Bintaro.
Dengan adanya penemuan dan warga yang penasaran ingin melihat anjing tersebut pun langsung membuat berkah kepada para tukang parkir dadakan. (DRA)
Langganan:
Postingan (Atom)